...
Melestarikan Permainan Tradisional Bersama Saka Pariwisata Demak

DEMAK - Saka Pramuka Pariwisata Kwartir Cabang Demak melakukan kegiatan latihan rutin. Saat latihan rutin menggunakan acuan krida yang ada di Saka Pariwisata untuk pengembangan peserta didik.

Sabtu (6/7/2024) Saka Pariwisata Demak bermain bersama dengan tema dolanan lali gadget “Dolaget”. Latihan ini memadu padankan  dalam permainan tradisional dan moderen yaitu dakonan, UNO card, dan UNO Stucko.

Dakon adalah permainan yang berasal dari daratan Afrika, Arab dan berkembang di Indonesia yang dibawa oleh bangsa Arab yang datang berdagang dan berdakwah. Permainan ini identik dengan permainan tradisional masyarakat Jawa. Pada zaman dahulu permainan dakon dibuat di tanah liat yang dilubangi, untuk keciknya “biji” menggunakan isi srikaya atau isi sawo. Dakon memiliki 14 lumbung kecil dan 2 lumbung besar diujung.

Permainan ini dilakukan oleh dua orang secara bergantian untuk memilih satu lumbung kecil miliknya, kemudian kecik pada lubang tersebut dipindahkan satu persatu ke lubang lain searah jarum jam sampai biji dalam genggaman habis.

UNO berasal dari bahasa Spanyol dan Italia yang artinya satu adalah sebuah permainan kartu tipe shedding Amerika yang awalnya dikembangkan pada tahun 1971 oleh Merle Robbins di Reading, Ohio , pinggiran kota Cincinnati. Terdapat 112 kartu yaitu 76 kartu biasa dan 36 kartu aksi. Salah satu ciri khas UNO card yaitu katakan ” UNO” saat kartu tersisa satu ditangan.

UNO Stacko adalah permainan menyusun balok-balok menjadi menara. 1 set UNO Stucko terdiri dari 45 balok berwarna merah, kuning, hijau, biru, dan ungu. Ada berbagai jenis balok seperti DRAW 2, SKIP, angka, Reverse, dan WILD yang artinya sama seperti di permainan uno card. Uno Stucko dapat dimainkan dengan 3 permainan yaitu domino, puzzle block, dan tower stacko.

Permainan tower Stacko adalah membentuk menara dengan mengambil balok dari bagian bawah atau tengah menara dan meletakkannya di puncak menara secara bergantian tanpa boleh merobohkan menara atau menjatuhkan balok lain.

Eko Pamong Saka Pariwisata mengungkapkan “Krida penyuluh pariwisata menjadi tema latihan kali ini dengan dolanan lali gadget (bermain dengan melupakan gadget). Hal ini dilakukan untuk memupuk anggota Saka bisa melestarikan permainan tradisional. Sehingga di era sekarang banyak manusia yang terpaku dengan gadget bisa sejenak melakukan permainan tradisional dan suka cita bersama teman yang lain”, pungkas Eko. (Dinpar/Eza)