Pelajar Demak Tunjukkan Kreativitas Cegah Kriminalitas Lewat Konten Video AI
DEMAK - Kreativitas pelajar Kabupaten Demak dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menyampaikan pesan positif mendapat apresiasi melalui Lomba Konten Kreator Video AI Pelajar Demak bertema “Pelajar Demak Anti Kriminalitas”.
Tim CONTINUE#404 dari SMA Negeri 1 Demak berhasil meraih juara pertama melalui karya bertema “Anti Balap Liar”. Tim tersebut beranggotakan Rajwa Rafie Naufalandri, Azka Aulia F, dan Hayyik Nur Fitra.
Sementara itu, juara kedua diraih tim KICAU SMANDA dari SMA Negeri 2 Demak dengan karya bertema “Anti Tawuran”, disusul tim SUDIRA dari SMAN 1 Dempet sebagai juara ketiga melalui karya bertema “Anti Pergaulan Bebas”.
Untuk juara harapan, posisi pertama diraih tim KRIUKK dari SMK Garuda Nusantara Karangawen Demak dengan tema “Anti Tawuran”. Juara harapan kedua diraih tim TRIEL dari SMK NU Raudlatul Ulum dengan tema “Anti Judi”, sedangkan juara harapan ketiga diraih tim MANU DEMAK IDOLAKU #1 dari MA NU Demak dengan tema “Anti Hoaks”.
Penyerahan hadiah dan apresiasi kepada para pemenang menjadi bagian dari Lomba Konten Kreator Video AI Pelajar Demak yang digelar di Aula Wicaksana Laghawa Polres Demak, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 97 tim dengan total 291 pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Demak. Para peserta ditantang menghasilkan karya video berbasis AI yang mengangkat pesan edukatif mengenai pencegahan berbagai bentuk kriminalitas di kalangan generasi muda.
Kapolres Demak AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra mengatakan, perkembangan teknologi AI perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital, kreativitas, etika, serta tanggung jawab dalam penggunaannya.
“AI tidak cukup dipandang hanya sebagai kemajuan teknologi, tetapi perlu diarahkan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat pendidikan, literasi digital, pencegahan kriminalitas, serta pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat”, kata Samel.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dengan generasi muda. Pesan mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat dikemas melalui media yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan karakter pelajar saat ini.
Polres Demak juga telah menyiapkan sejumlah personel yang kompeten dan tersertifikasi sebagai trainer AI. Pelatihan pemanfaatan AI telah diberikan di sejumlah sekolah di Kabupaten Demak.
“Upaya menjaga Kamtibmas juga harus terus berkembang dengan pola komunikasi yang inovatif, edukatif, dan relevan dengan karakter generasi muda”, ujarnya.
Dalam lomba tersebut, para peserta didorong mengangkat berbagai isu yang dekat dengan kehidupan pelajar, di antaranya tawuran, perundungan, narkoba, judi online, kekerasan, balap liar, hingga penyebaran hoaks.
Samel menilai konten digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi dan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. Karena itu, kreativitas di ruang digital perlu diarahkan untuk menyebarkan pesan yang membangun dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Di ruang digital saat ini, sebuah konten tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi mampu membentuk persepsi, memengaruhi sikap, bahkan mendorong perilaku. Karena itu, setiap karya yang kalian hasilkan memiliki daya pengaruh sekaligus tanggung jawab moral terhadap pesan yang disampaikan kepada publik”, jelasnya.
Ke depan, kreativitas dan kemampuan memanfaatkan AI yang telah diperoleh para peserta diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung kegiatan pendidikan, kewirausahaan, kreativitas, maupun kegiatan sosial di lingkungan masing-masing.
“Saya ingin pelajar Demak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu tampil sebagai generasi yang memahami teknologi, menguasai ruang digital, sekaligus memiliki keberanian untuk mengarahkannya kepada hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat”, pungkas Samel.
Sementara itu, narasumber sekaligus juri dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Fiskal Purbawan, memberikan edukasi mengenai pemanfaatan AI secara bijak dan kreatif.
Menurut Fiskal, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari ide, menyusun konsep dan naskah, membuat visual serta animasi, menghasilkan suara, hingga membantu proses penyuntingan video.
Namun, penggunaan AI tetap harus diimbangi dengan ide, kreativitas, dan karakter dari pembuat konten.
Penilaian lomba meliputi kekuatan ide, kreativitas dan orisinalitas, kesesuaian tema, kualitas gambar dan suara, alur cerita, kemampuan menyampaikan pesan, pemanfaatan AI, serta nilai edukasi bagi masyarakat.
Fiskal juga mengingatkan pelajar terhadap berbagai risiko penyalahgunaan AI, seperti deepfake, manipulasi foto dan video, penyebaran hoaks, penipuan digital, pemalsuan identitas, hingga pembuatan konten yang dapat menimbulkan keresahan.
“Saring sebelum sharing. Pastikan konten benar, bermanfaat, tidak melanggar aturan, serta tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain”, pesannya.
Melalui kompetisi tersebut, para pelajar tidak hanya ditantang menguasai teknologi, tetapi juga diajak menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang sehat dan edukatif. (Red-kmf/apj).
DINPERPUSAR DEMAK 






