Bedah Buku Feslit Demak : Ayu Prawitasari Ungkap Kecerdasan Perempuan Indonesia dari Folklor
DEMAK – Dongeng dan cerita rakyat atau folklor tak melulu menjadi pengantar tidur. Di balik kisah tentang putri, ratu, hingga perempuan sakti, tersimpan gambaran tentang bagaimana perempuan Indonesia berpikir, mengambil keputusan, dan memainkan peran dalam kehidupan. Gagasan itu mengemuka dalam Bedah Buku 'Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur' karya Ayu Prawitasari, dalam rangkaian Festival Literasi (Feslit) Denak 2026 bertema “Dari Kota Wali untuk Generasi Berliterasi” di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Demak, Kamis (24/09/2026). Buku yang diluncurkan pada 22 Agustus 2026 itu merupakan catatan perjalanan sekaligus karya reportase Ayu sebagai jurnalis dalam menelusuri sejumlah cerita lama. Di antaranya Sri Tanjung, Ken Dedes, Klenthing Kuning, Calon Arang, Roro Jonggrang, dan Nyi Roro Kidul.
“Buku ini sebenarnya catatan perjalanan atau karya reportase saya sebagai seorang jurnalis. Buku ini juga dibiayai Kementerian Kebudayaan lewat anggaran riset Dana Indonesia,” kata Ayu pada bedah buku, yang dimoderatori Khaled Hasby Ashshidiqy itu.
Ayu mengungkapkan, buku tersebut berangkat dari kegelisahannya terhadap teori-teori feminisme yang dipelajarinya ketika masih menjadi mahasiswa. Ia menegaskan bukan berarti menolak feminisme. “Bukan saya tidak menerima teori feminisme, tetapi sebenarnya Indonesia punya konteks feminisme sendiri. Konteks feminisme itu bisa dilihat lewat folklor. Perempuan Indonesia itu kompleks banget, tidak pasif, smart seperti Kancil,” ujarnya.
Salah satu tokoh yang menjadi perhatian Ayu adalah Ken Dedes. Ia melihat sosok perempuan dalam cerita lama tidak selalu ditempatkan sebagai pengikut laki-laki. Bahkan, perempuan bisa memiliki pengaruh besar terhadap arah kehidupan dan kekuasaan, meski tidak selalu berada dalam jabatan publik. “Kita bisa belajar dari Ken Dedes. Yang dikisahkan karena terpancar emas dari rahimnya bisa lahir raja-raja Jawa,” katanya.
Menurut Ayu, istilah nareswari pun yang kerap dilekatkan pada Ken Dedes sebagai perempuan bercahaya juga menarik dibaca dalam konteks zamannya. Pada masa yang identik dengan perang dan kekuasaan maskulin, menurut dia, belum tersedia kosakata yang tepat untuk menggambarkan perempuan cerdas dan memiliki pengaruh besar. Ayu juga mengajak pembaca, terutama generasi muda, untuk tidak sekadar menerima cerita lama sebagai dongeng, tetapi membacanya secara kritis.
“Saya tidak menuntut persetujuan. Kalau ada yang protes atas tulisan saya tidak masalah. Critical thinking itu tidak harus setuju. Apalagi bagi saya laki-laki dan perempuan sama-sama punya nilai,” tegasnya.**
Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul "Bedah Buku Feslit Demak : Ayu Prawitasari Ungkap Kecerdasan Perempuan Indonesia dari Folklor "
Baca selengkapnya di: https://www.sigijateng.id/jawa-tengah/1503055381/bedah-buku-feslit-demak-ayu-prawitasari-ungkap-kecerdasan-perempuan-indonesia-dari-folklor
DINPERPUSAR DEMAK 