CME Inovasi Digital Tekan AKI, AKB, dan Stunting
DEMAK - Aplikasi Cengkraman Mata Elang (CME) merupakan inovasi untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta angka stunting. Program ini mengedepankan kolaborasi antara masyarakat, kader kesehatan, dan tenaga medis dengan dukungan sistem digital untuk memantau kondisi ibu hamil dan balita secara real time.
Hal ini disampaikan oleh Andrig Ariyani selaku Programer Anak Dinas Kesehatan Kabupaten Demak saat talkshow di Radio Suara Kota Wali bersama host Putri Caramel, Kamis (23/4/2026).
“CME ini menjadi jembatan antara masyarakat dengan tenaga kesehatan, sehingga deteksi dini bisa dilakukan lebih cepat dan penanganan menjadi lebih tepat,” kata Andrig.
CME pertama kali diluncurkan pada tahun 2017 di Puskesmas Bonang II, kemudian pada 2019 direplikasi ke seluruh puskesmas di Kabupaten Demak sebagai bagian dari program Quick Win Smart City. Perkembangannya terus berlanjut, hingga pada 2020 fitur pemantauan stunting ditambahkan dan ditetapkan sebagai inovasi daerah melalui SK Bupati.
Keberhasilan program ini semakin terlihat pada 2022, saat CME berhasil meraih dua penghargaan tingkat nasional sekaligus berkontribusi dalam penurunan angka stunting. Bahkan pada periode 2023-2024, angka stunting di Demak tercatat sebagai salah satu yang terendah di Jawa Tengah, meskipun sempat mengalami kenaikan pada 2024.
Keunggulan CME
Salah satu keunggulan CME adalah integrasi berbagai pihak dalam satu sistem. Masyarakat umum, kader kesehatan yang disebut “Mata Elang”, serta tenaga puskesmas terhubung melalui aplikasi digital yang memungkinkan pemantauan secara langsung. Sistem ini juga dilengkapi notifikasi otomatis, seperti pengingat Hari Perkiraan Lahir (HPL) 14 hari sebelumnya, deteksi risiko tinggi kehamilan, hingga indikasi stunting.
“Dengan sistem ini, laporan tidak lagi menunggu berjenjang. Begitu ada data masuk, tim puskesmas bisa langsung merespons”, jelas Andrig.
Sebelum adanya CME, pendataan masih dilakukan secara manual menggunakan buku bantu, sehingga membutuhkan waktu lebih lama dan berisiko terjadi keterlambatan penanganan. Kini, seluruh data dapat diinput langsung melalui aplikasi, memungkinkan respons cepat dan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Dalam implementasinya, alur kerja CME dimulai dari input data oleh masyarakat atau kader melalui aplikasi. Selanjutnya, tim puskesmas melakukan verifikasi dan kunjungan lapangan. Jika tidak berisiko, pasien mendapatkan asuhan standar, sedangkan jika berisiko akan dilakukan intervensi lanjutan atau rujukan ke rumah sakit. Seluruh proses tersebut dimonitor secara berkelanjutan melalui sistem.
Adapun indikator risiko stunting yang dipantau meliputi ibu hamil anemia, kekurangan energi kronis (KEK), panjang badan lahir rendah, tidak mendapatkan ASI eksklusif, hingga nilai Z-score tinggi badan menurut umur di bawah minus dua standar deviasi.
Dari sisi kelembagaan, CME didukung berbagai regulasi seperti SK Kepala Puskesmas dan SK Kepala Desa, serta dilengkapi SOP dan Kerangka Acuan Kerja (KAK). Kader CME juga dibekali pelatihan selama tiga hari, memiliki wilayah kerja masing-masing, dan dikukuhkan oleh camat. Koordinasi dilakukan melalui grup WhatsApp, aplikasi CME, serta pertemuan rutin bulanan.
Hasilnya, program ini mampu menekan angka stunting secara signifikan dari 35,75 persen pada 2019 menjadi 9,5 persen pada 2023, dan berada di angka 10 persen pada 2024. Selain itu, angka kematian ibu menunjukkan tren penurunan, sementara angka kematian bayi relatif terkendali. (Red-kmf/apj).
DINPERPUSAR DEMAK 





